NHW 4 : Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?
Masiiihhh. Jurusan ilmu yang saya pilih di NHW #1 adalah Ilmu Metode Belajar Al-Quran. Dalam target terdekat, bidang ilmu itu yang ingin saya rampungkan pembelajarannya, tapi untuk NWH kali ini saya merasa harus menetapkan jurusan ilmu lain yang ingin saya pelajari dalam jangka panjang, yaitu Ilmu Pengelolaan Lingkungan Hidup.
b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.
Berusaha (sih), tapi masih banyak bolongnya. Oke ceklistnya hanya tertanam di ingatan, belum titip print ke Ayah. Lakukan lakukan lakukan
b.Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.
Saya seringkali terganggu melihat kondisi lingkungan hidup di sekitar. Tentang pohon rindang yang semakin jarang di sekitar, tentang sampah yang tak terkelola, tentang asap debu yang mengotori udara, tentang hal terkait kerusakan lingkungan lainnya. Ditambah, suami sekarang bekerja dan aktif secara sosial di bidang energi terbarukan yang menurut saya sejalan dengan bidang yang saya minati. 

Dan saya tersentil ketika salah satu teman mengajak saya untuk mengisi materi tentang lingkungan di majelis ibu-ibu melihat background pendidikan saya. Saya kemudian berkata pada diri sendiri, minim sekali ilmu yang saya punya untuk dibagi. Terlebih setelah repot dengan anak-anak di rumah, menerapkan sendiri di lingkungan rumah pun belum pernah.
Misi : Memberikan edukasi dan menjalankan program seputar pengelolaan lingkungan hidup

Bidang : Ilmu Lingkungan Hidup

Peran : Pekerja Sosial
c. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut. 
1. Bunda Sayang : Ilmu-ilmu seputar Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Kesehatan

2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar penerapan metode pengelolaan lingkungan hidup khususnya dalam lingkup rumah tangga

3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar penulisan artikel, buku cerita anak, dan strategi marketing.

4. Bunda Shaleha : Ilmu-ilmu seputar pengembangan organisasi masyarakat atau badan usaha, pemberdayaan masyarakat, dan public speaking
d. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup
Tahun 1-3 : menerapkan ilmu-ilmu seputar pengelolaan lingkungan hidup, menerapkannya bersama anak-anak di rumah, menuliskan dan mendokumentasikannya

Tahun 3-5 : memiliki publikasi berupa artikel / buku cerita / tulisan lepas tentang pelestarian dan pengelolaan lingkungan hidup.

Tahun 5-7 : aktif dalam kegiatan sosial di bidang lingkungan hidup, mengembangkan program pengelolaan lingkungan hidup dalam komunitas kecil di lingkungan sekitar

Tahun 8-10 : mengembangkan program pengelolaan lingkungan hidup dalam skala yang lebih besar, misalnya eco camp untuk anak-anak dan keluarga.
e. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.
Done.
f. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

NHW 3 : untuk Diri dan Lingkungan Sekitar

Izinkan aku bercermin. Menatap lamat lamat wajah diri di hadapan. Ada gurat gurat apa disana?

Izinkan aku bercermin. Menatap mata dalam dalam di hadapan. Ada rasa apa disana?

Allah menganugerahi tiap tiap manusia dengan potensi. Allah menjadikan setiap manusia memiliki peran di muka bumi. Menggunakan potensi dengan sebaik baiknya adalah sebuah bentuk rasa syukur kita. Aku bersyukur Allah memampukaku menjadi pribadi yang mandiri, melakukan berbagai hal bersama anak anak sendiri, bepergian bersama, melakukan aktifitas harian tanpa banyak bergantung pada orang lain. Sebuah modal yang penting aku miliki sepanjang hidup perantauan kami setelah menikah. Aku bersyukur aku mampu menuangkan perasaan dalam tulisan, hal ini menjadikanku tetap waras di kala hati dan pikiran ingin berteriaaak. Aku bersyukur aku mampu mengendalikan keinginan dan tidak terlalu jauh terbawa pada gaya hidup kebanyakan orang. Aku bersyukur kegemaranku akan buku ketika aku kecil kini menjadi sumber kesenangan sekaligus pintu rezeki dari Allah, juga menjadi jalan silaturahmi di tengan lingkungan baru untuk diriku yang tidak mudah bergaul ini.

Allah memberi amanah satu paket dengan kemampuan menjalankannya bukan. 

Allah menghadirkanku untuk melengkapi suami, untuk mendidik anak anak yang jaraknya berdekatan, untuk lingkungan yang terbentang luas ladang dakwahnya.

NHW 3 : untuk buah hati Bunda

Hai Nidal sayang, kakak pertama, balita beradik dua. Darimu Bunda pertama kali belajar menjadi orang tua. Mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, mpasi, drama menyapih, beragam permainan stimulasi, hingga bagaimana mengelola emosi..

Darimu, Bunda menuntut terlalu banyak, berlebihan meminta pengertian, tergesa gesa akan segala hal karena waktu yang terbagi untuk adik-adikmu, hingga menumpahkan amarah sejadi-jadinya.

.

Engkau. Sulit mengerti. Akalmu belum sempurna. Badan kecilmu tak berdaya. Lisanmu belum fasih menyampaikan isi hatinya. Bunda sebatas tau. Tapi kemudian. Hanya bisa menutup hari dengan beragam sesal. Memintakan maafmu. Berharap hatimu tak menyisakan banyak luka. Dan ketika tangan kecilmu membalas pelukan, Bunda seakan merasa ada harap darimu bahwa esok kita akan lebih baik bersama-sama. 
Allah menganugerahimu banyak kelebihan. Kau mampu mengamati details, mengingat hal yang kecil yang bahkan Bunda tak perhatikan sama sekali, kau betah lama sekali jika dibacakan cerita, momen terbaik bonding kita selepas engkau disapih ya kan. Darisana Bunda menilai kau memiliki tipe visual. Kau juga punya kemampuan verbal yang hebat, dengar saja ketika kau berdebat. Kau, perasa, tipe feeling kalau menurut hasil test stifin. Kau mudah sekali mengcopy emosi, sayangnya yang Bunda perlihatkan lebih banyak emosi negatif kepadamu sepertinya. Potensimu yang besar semoga bisa Bunda arahkan agar berkembang dengan optimal.
***
Hai Faizan sayang, anak tengah berkakak balita dan beradik bayi. Dari lahir kau sudah harus berbagi perhatian. Sekarang kamu sedang memasuki masa masa terrible two ya. Artinya Bunda harus lebih sabar menghadapi emosimu yang sering tak terduga. Lebih sabar mengenalkanmu pada berbagai emosi dan bagaimana mengendalikannya.
Bunda tak tau rasanya, pasti sangat berat memiliki kakak yang masih belajar berbagi dan adik yang nempel terus sama Bunda. Kalau kau benar benar sedih biasanya kau diam sambil terisak kemudian tangismu meledak. Sayangnya Bunda tidak bisa memelukmu sebanyak Bunda mau. 
Mungkin keadaanmu ini juga yang membuatmu lebih cepat dewasa ya. Berani melengang kemanapun kau mau, mudah berbaur, menebar senyum manismu untuk menarik perhatian orang. Kau juga menjadi anak yang kreatif yang bisa mencari kesibukan sendiri di tengah kebosanan. Kau tidak mudah sedih atau menyerah ketika menghadapi tantangan. 
Bunda suka sekali mendengar kau bernyanyi. Mudah sekali kau menghafal lirik lagu ya. Diam diam hafalan surat pendekmu juga sudah banyak walaupun acak. Karena secara tidak langsung kau sering mendengarkan Bunda belajar surat pendek bersama Kak Nidal. Kau tipe audio sepertinya ya. Semoga Bunda bisa mengarahkanmu sesuai potensimu menjadi sebesar besar kebermanfaatan.
***
Hai Arunda sayang. Bayi cantik Bunda. Begini ya rasanya memiliki bayi perempuan. Menyenangkan sekali. Sebentar lagi kau genap setahun. Setahun yang hebat. Hari hari kita selalu ramai ya. Seringkali kita menjadi penonton setia pertengkaran kakak kakak jagoan. Tak jarang juga kau menyaksikan Bunda mengomel panjang dengan tatapan polos sambil menganga. Ya sayang, Bunda sedang marah, doakan Bunda berkurang luapan emosinya ya. Wajah lucumu sungguh menjadi penghibur Bunda di tengah hiruk pikuk hari yang menguras tenaga dan pikiran.
***
Kalian bertiga, buah hati Bunda. Bunda sungguh bersyukur atas kehadiran kalian di kehidupan Bunda. Menjadi ibu sungguh sebuah karunia luar biasa, sungguh sebuah amanah yang pertanggungjawabannya dunia akhirat. Kita bergandengsn tangan bersama ya. Melejitkan potensi kita masing masing, hingga kalian melepaskan genggaman tangan Bunda dan siap menjelajah dunia dengan langkah langkah tegap kalian.

NHW 3 : untuk Ayah

Malam ini gerimis lagi. Ketika aku mengetik surat ini mungkin Ayah sedang menunggu bagasi. Padahal bisa saja Ayah langsung melaju keluar mencari taxi tanpa harus mendorong troli. Jika bukan karena terpaksa membawa titipan Bunda dari Jakarta. Jika bukan karena ingin membahagiakan Bunda. Ya kan. Bilang saja iya.

Tak banyak bahasa cinta yang mampu aku tangkap dari sosok yang “dalam” sepertimu, Ayah. Banyak hal yang aku artikan sendiri dan membuatku bahagia sendiri. Aku tau kau pasti tersenyum ketika membeli bunga di hari ulang tahun kita. Bukan senyum canda seperti ketika kau berikan bunga itu padaku, tapi senyum cinta. Ya kan. Walau tak nampak melekat lama ketika kita bertatap. Aku tau kau memikirkanku di sela kesibukanmu walau tak satu pesanpun yang kau kirim hampir sepanjang hari. Buktinya kau selalu tanggap mengangkat panggilanku. Khawatir aku sedang kesulitan. Ya kan. Dan kau kemudian lega karena aku hanya sekedar bertanya bor ditaruh dimana ya. Aku juga tau butuh banyak kesabaran mendengar rentetan cerita panjang tak bertema dari mulutku, karena kau tau perempuan butuh menumpahkan ribuan kata agar mereka bahagia. Ya kan.

.
Tapi aku juga tau banyak kecewa yang terpendam dalam benakmu. Tentang masakan yang tak sesuai keinginan, tentang penampilan yang jauh dari saat kita “berpacaran”, tentang kebiasaan buruk ku yang tak kalah banyak dengan anak pertama kita, tentang perhatian yang hanya mampu tercurah di sisa hari ketika buah hati kita telah terlelap semua, itupun jika kita masih mampu terjaga. Jenuhmu bertemu jenuhku, dilagui keriuhan ketiga balita di rumah kita. Aku hanya ingin Ayah tau di sepanjang laju hari-hariku yang selalu ramai, perasaanku pada Ayah tidak pernah berkurang sedikit pun.

.
Perasaanku bertumbuh, pun tanpa upaya membangunnya, ia sudah membuncah memenuhi setiap sudut relung hati. Mencintaimu begitu mudah. Yang sulit adalah menahan perasaan cinta yang awalnya berwujud harap ini agar tak berubah menjadi rasa takut yang mendominasi. Iya, aku tau karena itu kau benci antusiasmeku pada film drama dan kisah tragis rumah tangga yang betebaran di sosial media. Ah lupakanlah.

.
Mencintaimu begitu mudah. Lihatlah anak-anak kita, mendengar derung motor dan suara gerbang terbuka tanda Ayah pulang adalah irama yang membuat mereka riang seketika. Kau juga seringkali menjadi tema percakapannya, termasuk kepada teman-temannya, dengan nada bangga. “Ayahku loooh.. Ultraman!”

.
Ya. Begitu banyak hal yang membanggakan pada dirimu, tapi kau menjaga pesonamu agar tak berserakan dan mengundang kesombongan. Kau semakin berisi, namun tetap merunduk. Semoga jantung hati kita senantiasa berdekatan, dalam kesahajaan, agar degupnya selalu seirama, menapaki perjalanan rumah tangga, sampai ke surga.

NHW 2 : Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan

Menjadi Ibu, adalah sebuah profesi, yang mungkin hasil dari jalan panjangnya baru akan terasa di penghujung usia. Sebuah jabatan, yang awalnya saya anggap absurd nilai capaian hasil kerjanya, ternyata bisa kita buat indikatornya.
Pertanyaannya, darimana kita dapatkan indikator itu? Dari mereka yang merasakan hasil kerja kita, yaitu suami, anak-anak, dan tentu saja diri kita sendiri. Materi Kedua Matrikulasi IIP membuka mata saya bahwa tahapan panjang itu hanya akan menjadi bacaan berbintang yang discroll berulang jika tidak dimulai dari sekarang, dari poin teratas. Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif, kemudian Bunda Solehah. Banyak poin yang dijabarkan dalam materi yang seharusnya dicapai berurutan sesuai tahapan, bukan terbolak balik. Urutan ini menyadarkan saya akan prioritas yang terloncat. Misalnya, ada poin poin dalam tahap Bunda Produktif yang saya capai, padahal saya belum sempurna menjalankan poin dalam Bunda Sayang yang seharusnya lebih diutamakan. Maka mari kita mulai “pekerjaan” kita dari Bunda Sayang dan seterusnya hingga paripurna. Semoga Allah memudahkan langkah-langkah kita.

***
Indikator Sebagai Individu

1. Imtaq : Target ibadah harian terpenuhi (tilawah, dhuha, dzikir), Infaq dan Qiyamul Lail Jumat atau min 1x/pekan, mengikuti pengajian min 1x/pekan, membaca siroh/hadits/buku agama lain min 1 bab/pekan

2. Kesehatan : Konsumsi buah dan sayur setiap hari, konsumsi suplemen (habbat/madu/suplemen lainnya) setiap hari, olahraga minimal 10min per hari, cleansing milk & night cream untuk wajah setiap hari.

3. Keterampilan/pengetahuan : Menulis di blog tentang apa saja min 1x/pekan, membaca novel min 1 buku/bulan, membaca buku pengetahuan tentang lingkungan & kesehatan min 1 bab/pekan

***

Indikator Sebagai Istri

1. Couple time min 15min/hari

2. Menyiapkan sarapan setelah subuh; ready before 7h

3. Memastikan rumah bersih dan rapih sebelum magrib

4. Mandi sore dan berpenampilan rapi sebelum suami sampai di rumah

5. Laporan bulanan keuangan rumah tangga balance atau tidak defisit

6. Tidak teledor dan menggampangkan sesuatu dan lebih hati-hati 

***

indikator Sebagai Ibu

1. Story telling jelang tidur malam, minimal 15 menit/hari

2. Bermain role play min 1x/hari

3. Masak cemilan sore bersama

4. Senam bersama / Seni Gerak dan Bernyanyi setiap hari

5. Bermain outdoor setiap sore kecuali jika hujan

6. Mengaji min 1 hal/hari

7. Shalat bersama min 1x/hari

8. Bunda tidak marah sambil berteriak

9. Mewarnai / Menggambar / Menulis setiap hari

10. Bermain tanah / air / pasir / plastisin setiap hari

11. Bermain bulding block / lego / permainan sejenisnya setiap hari

12. Murojaah bersama minimal 1 surat pendek / hadits / doa

13. Berenang setiap pekan

14. Shalat ke masjid bersama bunda min 1x/pekan

15. Memeluk dan atau mencium tiap anak min 3x/hari

16. Liburan menginap bersama min 1x/3 bulan

***

“Allah tidak membebanimu melebihi kesanggupanmu, maka bersungguh-sungguhlah.”

NHW 1 : Adab Menuntut Ilmu (Kelas Matrikulasi IIP Batch 3)

“Selamat datang kembali” saya ucapkan pada diri sendiri di blog tercinta ini. Banyak hal yang membuat saya lama tidak menulis disini sampai akhirnya tugas Matrikulasi Institut Ibu Profesional memaksa saya untuk bangun dari mati suri. Alhamdulillah.


Materi pertama di kelas matrikulasi ini mendasar sekali, hal yang seringkali terlupa sehingga menghalangi keberkahan atau kelancaran dalam menuntut ilmu, yaitu tentang adab menuntut ilmu. Ya, menuntut ilmu ada adabnya. Tapi disini saya sedang tidak membahas materinya, karena itu tempatnya di kelas matrikulasi, Yes! (Ikutan yuuk). Tulisan ini dalam rangka menjawab tugas yang berkaitan dengan adab menuntut ilmu tadi. Bismillah mari kita mulai.

***

Pertama, tentang satu ilmu yang ingin saya dalami di universitas kehidupan ini. Satu ilmu. Bukan banyak. Satu saja.

Renung dulu kalau begitu.

Belum satu.

Renung lagi.

Malah semakin banyak.

Ah tentu saja banyak sekali ilmu yang ingin kita dalami dalam hidup ini. Tapi saya coba batasi untuk target waktu terdekat. Saya ingin mendalami ilmu Metode Belajar Membaca Al-Quran.

***

Kedua, alasan terkuat mendalami ilmu yang saya pilih. Sebaik baik manusia adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya. Sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sekitarnya. Mempelajari Al-Quran disini tentu saja memiliki makna luas. Tapi saya ingin memulai dari bacaannya. Karena bacaan inilah yang sedari dini saya perdengarkan pada anak anak, kemudian saya ajarkan sampai sempurna bacaan mereka kelak. Awalnya saya merasa memiliki bacaan Al-Quran yang lumayan, dengan PDnya mengajar anak-anak SD semasa kuliah dulu. Sampai ketika anak pertama saya masuk sekolah kelas bermain (KB), saya mulai mengenal metode Ummi. Karena ingin dapat mengajarkan anak saya dengan metode yang sama, saya mengikuti kelas Ummi yang dibuka untuk Wali Murid. Ternyata, banyak sekali yang harus saya perbaiki dan banyak sekali ilmu baru yang dipelajari. Saya jadi semakin termotivasi dan ingin menyelesaikan kelas ini sampai sertifikasi. Saya juga berencana mengikuti kelas belajar metode lainnya. Dengan modal tadi sy berharap dapat ikut berpartisipasi menjadi pengajar agar ilmu yang didapat membawa kebermanfaatan bagi sekitar. 

Alasan lainnya, mengikuti kelas mengaji memungkinkan saya membawa bayi dan batita saya. Walau dengan perjuangan mengkondisikan mereka, tapi kemudahan ini tidak bisa saya dapatkan jika saya mengikuti kelas belajar lain yang tertahan di daftar panjang keinginan, kuliah atau kursus misalnya. Jika saya berkesempatan mengajar kelak, anak-anak juga bisa tetap ikut serta. Menjadi sarana mendekatkan mereka pada masjid dan Al-Quran. Semoga. 

Kondisi membersamai tiga balita seperti saat ini memang tidak mudah. Tapi semangat belajar harus tetap membara. Ilmu apapun, yang Allah berinya kesempatan dan kemudahan pada saya saat ini semoga bisa dimanfaatkan dengan sebaik baiknya.

***

Ketiga, bagaimana strategi menuntut ilmu ini. Membawa bayi (dan terkadang batita) ke majelis ilmu tentu tidak mudah. Materi dari Ibu Septi Peni tentang Adab Membawa Anak ke Majelis Ilmu alhamdulillah menjadi tambahan pengetahuan bagi saya. Saya harus lebih kreatif menyediakan media bermain sesuai durasi konsentrasi mereka yang masih pendek. Ditambah, perbekalan makanan kesukaan. Dan satu yang penting dan tersulit, tidak bosan memberi mereka pengertian dengan santun dan sabar. Strategi selanjutnya, saya harus membiasakan bacaan yang baik dan benar di setiap tilawah harian saya sebagai sarana berlatih agar lidah menjadi fasih. Saya juga harus sering mengulang materi yang perlu dihafalkan. Mengeraskan suara ketika menghafal materi juga ternyata membuat anak belajar, terlebih bagi anak kedua saya yang memiliki tipe belajar audio. Menghafal materi dengan cara seperti ini memungkinkan saya untuk belajar sambil bermain dengan anak-anak, terutama di waktu story telling jelang jam tidur malam mereka. Aktivitas belajar yang saya lakukan semoga bisa menjadi teladan juga bagi anak-anak. 

Keempat, perubahan sikap yang perlu saya lakukan dalam kaitannya dengan adab menuntut ilmu. Menuntut ilmu harus dimulai dengan niat yang lurus, hati yang bersih, “mangosongkan” pikiran agar siap diisi. Ini yang seringkali saya lupa. Di tengah persiapan mengikuti kelas selepas melewati rutinitas riuh pagi, saya harus menyempatkan diri sejenak untuk mensetting hati dan pikiran saya agar siap belajar. Adab lainnya, adalah etika terhadap guru sebagai penyampai ilmu. Saya menyadari sikap saya yang cenderung cuek dalam hubungan sosial. Untuk dapat menyerap ilmu dengan baik, saya merasa perlu melatih keterampilan bersosialisasi saya, mengenal pribadi guru pengajar saya, sehingga terjalin kedekatan hati dan kenyamanan dalam belajar yang insya Allah akan memudahkan saya menyerap ilmu yang disampaikan.

***

Alhamdulillah rampung sudah NHW ini saya kerjakan. Dengan menuliskannya seperti ini secara tidak langsung kita jadi dapat melihat peta target kita ke depannya. Semangat menimba ilmu buat kita semua! Dan jangan lupa untuk mengamalkannya :*

Curhat jelang subuh.

Malam ini sy merenung, seperti malam-malam kebanyakan. Memandangi wajah anak-anak yang tertidur pulas. Menyesali perbuatan tidak menyenangkan yang saya lakukan seharian terhadap mereka. Dilanjutkan dengan membuka-buka buku parenting di bab yang saya butuhkan. Atau mencari artikel di situs parenting online tentang tips menangani anak yang begini dan begitu.

Malam ini saya merenung, tentang hal hal di luar pengasuhan yang seringkali membuat energi positif saya meluap. Energi yang saya butuhkan agar dapat menyikapi sikap anak yang menguras sabar dengan tensi yang sedang. Saya butuh menyuasanakan hati agar tetap “senang”. Namun suasana hati yang dipaksakan ini mudah rusak seketika hanya karena komentar orang.

Ah lagi lagi komentar. Sudah berapa kali terucap dalam hati peduli apa dengan komentar orang, yang hanya menyaksikan sekian menit sekian jam interaksi saya dengan anak diantara 24 jam sy membersamai mereka. Tak perlukan saya menangis menyesali perbuatan salah saya di depan kalian. Kalian yang tidak menyaksikan penyesalan dan permintaan maaf saya pada anak, yang untuk apa juga saya ceritakan. Kalian yang dengan mudah menasehati sabar, jangan begini jangan begitu, anak-anak begini karena saya begitu. Seakan segala keburukan berasal dari saya. Sabar. Sesuatu yang selalu saya mohonkan dalam doa doa saya. Bersama ratapan kesalahan dan kekurangan saya dalam mendidik anak-anak. Saya cukup tau tentang kelurangan diri dalam mengasuh anak. Apa yang kalian harapkan dari komentar? Membuat saya merasa lebih buruk lagi?

Malam ini saya merenung, mengingat berbagai komentar dan berhenti pada sebuah memori tentang kalimat yang diucapkan ibu dan bapa saya ketika mendapati cucunya berlaku tidak baik ketika dinasehati. Bukan menyalahkan saya. Bukan menasehati keburukan saya. Tapi ucapan kepada cucunya, “Jangan gitu.. Sayang Bunda.. Nidal kan sayang Bunda. Kasian Bundanya sedih kalau Nidal kayak gitu.” Saat itu hati saya diam diam menangis. Dan kini, di tengah hiruk pikuk komentar, kalimat itu begitu saya rindukan.

IMG_1501-0

nguping Nidal (22mo)

Masuk kamar tidur (ber-ac), tutup pintu,
“Hemat eegi (baca:energi)”
Masuk kamar mandi, tutup pintu,
“Hemat eegi (baca:energi)”
Masuk kamar belakang (ga ber-ac), tutup pintu,
“Hemat eegi (baca:energi)”
#gagalpaham

Ambil breastpad di kotak setrikaan, dimasukin dalem baju n ditempel di dadanya,
“Bocor.. Bocor..”

Liat tikus mati di belakang rumah
“Tukis.. (baca: tikus) bobo..”

Waktu main di pinggir jalan ada ibu-ibu gemuk lewat,
“Ibu sampah..”
Petugas sampah rumah kami ibu-ibu gemuk. Untung si ibu lewat ga denger.

Gigit pangkal pulpen terus dilepas,
“Haseup (ind: asap)”
*akibat sering liat orang ngerokok dimana mana

“Nomen nomen (baca: permen)”
Geleng-geleng sendiri
“Aduuuuh.. Sakit gigi.. Ngono (ind: gituh)”

Mainin boardbook,
“Tutung.. (ind: gosong)”
Sambil ngebalik bukunya.
*akibat bundanya sering kegosongan kalo goreng

Nidal: “Pio pio (baca: video)”
*nanyain salah satu video fav dia di hp
Bunda: “Tos teu aya, kahapus ku Nidal (ind: udah ga ada, keapus sama Nidal)”
Nidal: “Meser deui (ind: beli lagi)”

Ngambil minuman di rumah tetangga,
Tetangga: “Iya ambil..”
Nidal: “Bayar.. Disik.. (ind: bayar dulu)”
Bunda: “Henteu, eta gratis (ind: ngga, itu gratis)”
*akibat suka diingetin bayar dulu kalo minta dibukain makanan/min di supermarket

receh.

20140129-231452.jpg

Siang tadi saya mengalami kejadian yang mengingatkan saya pada kejadian jauh jauh lama. Masih di Bali.

Waktu itu saya naxi ke Kuta. Seperti biasa macet parah di jalan pantai kuta nya, jadi saya memutuskan turun di tengah macet dan berjalan kaki saja karena sudah molor banget janjiannya. Tarif taxi sekian puluh (bulat) plus sekian ratus. Kalau tidak salah tiga ratus. Saya sodorkan uang 100rb, kemudian merogoh dompet lagi dan menemukan receh yang pas.

“Eh, ada 300 nya nih pa”

Maksud hati agar si bapa gampang kembaliannya. Tak disangka si bapa malah marah,

“Ga usah ga usah. Nih kembaliannya.”
“Loh kan jadi pas kembaliannya.”
“Ini mba ambil aja, ga mau saya terima uang receh receh gini”

Dengan nada ketus dan terkesan tersinggung sekali. Saya keluar sambil bingung.

Siang ini, saya mengalami kejadian yang hampir sama. Bedanya, si ibu ga semarah di bapa karena kami sudah kenal. Si ibu ini adalah ibu warung langganan saya beli galon sambil jajan. Kali tadi jumlah belanja saya 20.500, kata si ibu,

“Ambil lagi gorengannya satu biar jadi 21.000”
“Ga usah bu, ini saya ada 500nya”

Saya membayar dengan uang 50.000 plus 500 receh, 100-an nya 5. Si ibu tersinggung, tapi masih berusaha baik.

“Di pasar mah udah ga laku dek ratus2an gini. Kalo 500 bulet masih gapapa.”
“Oo gitu. Kenapa bu?”
“Ga mau terima orang. Udah nih adek ambil aja 500 nya, semuanya jadi 20.000 aja”
“Saya ambil gorengannya lagi aja deh bu, ini saya ada seribu”
“Emang adek dapet darimana seratus2an gini?”
“Dariii… Supermarket.”

Sambil berpikir keras kenapa seakan begitu nista punya uang seratusan banyak. Kenapa orang “kelas bawah” disini begitu “sombong” menilai uang recehan. Padahal di supermarket atau restoran sepertinya biasa saja. Apa iya? Iya apa? Sambil juga mengingat ingat kejadian receh yang lain, karena sepertinya tidak jarang saya lakukan. Karena buat saya terlalu berharga jika receh yang banyak ini hanya berakhir di mainan celengan nidal. *emak-emak perhitungan.

berbagi jalan.

20140109-000246.jpg

Dalam perjalanan menuju rumah tadi malam, mobil kami digetok seorang pengendara motor, sambil menyalip menyolot-nyolot seperti habis dizholimi apaa gitu. Bingung apa yang terjadi suami menepikan mobil disambut si pemotor yang ikutan ngerem siap menumpahkan amarahnya.

Suami keluar, dengan tenang bertanya ada apa y. Seketika dia nyerocos dengan nada tinggi, mengeluarkan kata-kata kasar yang capek didengar telinga. Berteriak tentang kami yang tidak tau sopan santun berkendara dengan nada bicara yang jauh dari santun. Berlagak paling bener berkendara padahal pakai helm saja tidak. Ditanya kesalahan kami apa malah ditantang adu mobil dan lapor polisi, “getokan” tadi adalah peringatan katanya. Menyebut-nyebut spion tapi ketika saya jelaskan bahwa di jalan memang diutamakan kendaraan yang di jalur lurus malah dia jawab dia yang lurus. Menunjuk-nunjuk dengan dada membusung, diikuti mata dan mulut yang tidak kalah busung. Dia emosi karena “jalan”nya diambil oleh kami, tapi bahkan kami yang sedari tadi berjalan lambat ini tidak tau kapan dimana pengendara jagoan itu muncul. Dengan sabar kami meminta maaf dan berterima kasih masih saja dimaki-maki sok suci di balik kerudung yang saya kenakan. Ah.

Payahnya, kejadian ini masih menguras pikiran saya sampai sekarang, bahkan sampai saya tuliskan di blog! Betapa saya menyadari bahwa mental saya begitu lemah. Menghadapi orang yang tidak bisa diajak bicara saja masih terpancing-pancing emosinya.

Kejadian tadi membawa saya pada kejadian tadi siang. Di tengah siang yang terik, setelah bersabar lama menunggu jalan agak lengang agar bisa menyebrang jalan besar sambil mendorong stroller nidal, datang juga kesempatan. Di sedikit kekosongan tadi saya bersiap melangkah, namun seketika urung karena motor yang berada paling depan tetiba menancap gas jauh meninggalkan mobil di belakangnya. Dan saya. Tidak habis pikir apa yang ada di otaknya.

Kejadian yang hampir sama juga pernah saya alami ketika dibonceng motor suami. Atau yang paling sering, diklaksoni ketika sedang berjalan di pinggir sambil mendorong sepeda roda tiga nidal. Super bingung harus menepi kemana lagi. Ke selokan?

Sebegitu mahalnya kah urusan “memberi jalan” ini?

Sesuatu yang muraaaahh sekali didapat ketika tinggal di Nantes. Ya, mau kemana lagi menbandingkannya, pengalaman hidup saya baru sesempit itu. Di jalanan berzebra cross tanpa rambu, pejalan kaki adalah raja, dan saling memberi jalan bagi para pengendara adalah budaya. Menyebrang jalan tidak perlu sampai menunggu lama apalagi angkat tangan. Kendaraan akan berhenti dengan sendirinya begitu melihat orang akan menyebrang. Yang paling membuat saya takjub, sebuah bis umum besar berhenti dari lajunya yang tidak pelan ketika saya seorang diri sedang menunggu menyebrang di tepian, padahal saya sama sekali tidak menunjukan gelagat minta diberi jalan. Waktu itu saya sedang hamil besar.

Berbeda sekali dengan … Mungkin ketika melihat jalanan agak kosong, bagi para pengendara bermotor tadi, itu adalah kesempatan emas untuk melaju sekencang-kencangnya. Salip sana sini, menyerobot jalur orang lain mungkin menimbulkan kepuasan dan prestasi tersendiri. Menuntut orang lain mengalah, merasa diri paling benar, budaya amuk yang kata pengamat sosiolog marak di Indonesia. Sama halnya seperti tertib antri yang jadi pemandangan langka disini. Begitu rusaknya kah.. Kemudian harus mulai darimana? Ah. Kusut.

  • @hananikaru

    Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 27 other followers

  • Blogs I Follow

Sandi Bayu Perwira

"Selama masih bisa berdiri, aku kan mencoba untuk terus berlari"

fsembapr

Just another WordPress.com site

leoni rahmawati

Live, Learn, Grow

Peace of Mind

lessons I learn in life, through life.

Halaman Bastenggo

Jadilah Inspirasi!

Simply POSITIVE

I write when I sad, happy and feel anything

singkongkejuyummy

Sometimes, people write the things that they can't say

the doodle house

A gleeful account of the escapades of two 20-somethings, our dogs and a little house in Austin.

The Rok Traveler

Tetap Nyaman Traveling Dengan Rok Panjang Syalala

adhyasari

Life is full of beauty. Notice it.

Inasa Kamila's Blog

"Plain and sensible is best.” – Marilla Cuthbert (Anne of Green Gables)

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

se.pe.da.kwi.tang

catatan kecil Bunda Amaya & Arsa

enjeklopedia

lalala nulis saja...

DR. SAIFUL BAHRI, M.A.

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat buat sesama"

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Ransel Butut

its about backpacker traveler .. enjoy my journey :)

PKJ 4.0

Tilawah, Tazkiyah, Ta'lim

Catatan Harian Calon Ibu

Karena Kesabaran Selalu Berbuah Manis

you and mie

let's make things

Craft Schmaft

Making Happy

Sugar & Cloth

DIY Inspired Living

Story of Kayla

Just another baby-story site

iing's files

notes and files by Fitri Iing

C'est ma vie

it's my life, my chance, my destiny

JamilAzzaini.com

untuk rehat. sejenak.

Interpreting Life

~人生の意味を調べてる私~

untold thought and feeling

karena menulis itu belajar asertif dan berkarya.

PradanaNusantara

writing is an art of giving

Tatty Elmir

Happy Lucky Traveler

pelangi.kata

saat goresan kata menciptakan warna ide yang nyata..

Catatan Big Zaman

Note to My Self

L'Arc En Ciel

full of colors as rainbow...

Dream Diary

Keg of Arie's Thoughts

ARIP MUTTAQIEN

untuk rehat. sejenak.

Mind Trick

Forgive what I have been. Sanctify what I am. Order what I shall be.

~ Ma Petite Arie

... Goûtez La Vie...

Chez Putranto

"A cup of coffee is enough to start the day"

giant spotlight and battle in the brain

keep learning keep inspiring

Talk To My Belly

The nice and not so nice conversations prompted by my round pregnant belly

Bengkel Budaya

Menyemai Insan Cendekia

The R's

The Neverending Learning Journal

UMI~GA~KIKOERU

"I Can Hear The Sea"

Selintas Tulis

Tulisan Sekali Duduk..