Curhat jelang subuh.

Malam ini sy merenung, seperti malam-malam kebanyakan. Memandangi wajah anak-anak yang tertidur pulas. Menyesali perbuatan tidak menyenangkan yang saya lakukan seharian terhadap mereka. Dilanjutkan dengan membuka-buka buku parenting di bab yang saya butuhkan. Atau mencari artikel di situs parenting online tentang tips menangani anak yang begini dan begitu.

Malam ini saya merenung, tentang hal hal di luar pengasuhan yang seringkali membuat energi positif saya meluap. Energi yang saya butuhkan agar dapat menyikapi sikap anak yang menguras sabar dengan tensi yang sedang. Saya butuh menyuasanakan hati agar tetap “senang”. Namun suasana hati yang dipaksakan ini mudah rusak seketika hanya karena komentar orang.

Ah lagi lagi komentar. Sudah berapa kali terucap dalam hati peduli apa dengan komentar orang, yang hanya menyaksikan sekian menit sekian jam interaksi saya dengan anak diantara 24 jam sy membersamai mereka. Tak perlukan saya menangis menyesali perbuatan salah saya di depan kalian. Kalian yang tidak menyaksikan penyesalan dan permintaan maaf saya pada anak, yang untuk apa juga saya ceritakan. Kalian yang dengan mudah menasehati sabar, jangan begini jangan begitu, anak-anak begini karena saya begitu. Seakan segala keburukan berasal dari saya. Sabar. Sesuatu yang selalu saya mohonkan dalam doa doa saya. Bersama ratapan kesalahan dan kekurangan saya dalam mendidik anak-anak. Saya cukup tau tentang kelurangan diri dalam mengasuh anak. Apa yang kalian harapkan dari komentar? Membuat saya merasa lebih buruk lagi?

Malam ini saya merenung, mengingat berbagai komentar dan berhenti pada sebuah memori tentang kalimat yang diucapkan ibu dan bapa saya ketika mendapati cucunya berlaku tidak baik ketika dinasehati. Bukan menyalahkan saya. Bukan menasehati keburukan saya. Tapi ucapan kepada cucunya, “Jangan gitu.. Sayang Bunda.. Nidal kan sayang Bunda. Kasian Bundanya sedih kalau Nidal kayak gitu.” Saat itu hati saya diam diam menangis. Dan kini, di tengah hiruk pikuk komentar, kalimat itu begitu saya rindukan.

IMG_1501-0

nguping Nidal (22mo)

Masuk kamar tidur (ber-ac), tutup pintu,
“Hemat eegi (baca:energi)”
Masuk kamar mandi, tutup pintu,
“Hemat eegi (baca:energi)”
Masuk kamar belakang (ga ber-ac), tutup pintu,
“Hemat eegi (baca:energi)”
#gagalpaham

Ambil breastpad di kotak setrikaan, dimasukin dalem baju n ditempel di dadanya,
“Bocor.. Bocor..”

Liat tikus mati di belakang rumah
“Tukis.. (baca: tikus) bobo..”

Waktu main di pinggir jalan ada ibu-ibu gemuk lewat,
“Ibu sampah..”
Petugas sampah rumah kami ibu-ibu gemuk. Untung si ibu lewat ga denger.

Gigit pangkal pulpen terus dilepas,
“Haseup (ind: asap)”
*akibat sering liat orang ngerokok dimana mana

“Nomen nomen (baca: permen)”
Geleng-geleng sendiri
“Aduuuuh.. Sakit gigi.. Ngono (ind: gituh)”

Mainin boardbook,
“Tutung.. (ind: gosong)”
Sambil ngebalik bukunya.
*akibat bundanya sering kegosongan kalo goreng

Nidal: “Pio pio (baca: video)”
*nanyain salah satu video fav dia di hp
Bunda: “Tos teu aya, kahapus ku Nidal (ind: udah ga ada, keapus sama Nidal)”
Nidal: “Meser deui (ind: beli lagi)”

Ngambil minuman di rumah tetangga,
Tetangga: “Iya ambil..”
Nidal: “Bayar.. Disik.. (ind: bayar dulu)”
Bunda: “Henteu, eta gratis (ind: ngga, itu gratis)”
*akibat suka diingetin bayar dulu kalo minta dibukain makanan/min di supermarket

receh.

20140129-231452.jpg

Siang tadi saya mengalami kejadian yang mengingatkan saya pada kejadian jauh jauh lama. Masih di Bali.

Waktu itu saya naxi ke Kuta. Seperti biasa macet parah di jalan pantai kuta nya, jadi saya memutuskan turun di tengah macet dan berjalan kaki saja karena sudah molor banget janjiannya. Tarif taxi sekian puluh (bulat) plus sekian ratus. Kalau tidak salah tiga ratus. Saya sodorkan uang 100rb, kemudian merogoh dompet lagi dan menemukan receh yang pas.

“Eh, ada 300 nya nih pa”

Maksud hati agar si bapa gampang kembaliannya. Tak disangka si bapa malah marah,

“Ga usah ga usah. Nih kembaliannya.”
“Loh kan jadi pas kembaliannya.”
“Ini mba ambil aja, ga mau saya terima uang receh receh gini”

Dengan nada ketus dan terkesan tersinggung sekali. Saya keluar sambil bingung.

Siang ini, saya mengalami kejadian yang hampir sama. Bedanya, si ibu ga semarah di bapa karena kami sudah kenal. Si ibu ini adalah ibu warung langganan saya beli galon sambil jajan. Kali tadi jumlah belanja saya 20.500, kata si ibu,

“Ambil lagi gorengannya satu biar jadi 21.000”
“Ga usah bu, ini saya ada 500nya”

Saya membayar dengan uang 50.000 plus 500 receh, 100-an nya 5. Si ibu tersinggung, tapi masih berusaha baik.

“Di pasar mah udah ga laku dek ratus2an gini. Kalo 500 bulet masih gapapa.”
“Oo gitu. Kenapa bu?”
“Ga mau terima orang. Udah nih adek ambil aja 500 nya, semuanya jadi 20.000 aja”
“Saya ambil gorengannya lagi aja deh bu, ini saya ada seribu”
“Emang adek dapet darimana seratus2an gini?”
“Dariii… Supermarket.”

Sambil berpikir keras kenapa seakan begitu nista punya uang seratusan banyak. Kenapa orang “kelas bawah” disini begitu “sombong” menilai uang recehan. Padahal di supermarket atau restoran sepertinya biasa saja. Apa iya? Iya apa? Sambil juga mengingat ingat kejadian receh yang lain, karena sepertinya tidak jarang saya lakukan. Karena buat saya terlalu berharga jika receh yang banyak ini hanya berakhir di mainan celengan nidal. *emak-emak perhitungan.

berbagi jalan.

20140109-000246.jpg

Dalam perjalanan menuju rumah tadi malam, mobil kami digetok seorang pengendara motor, sambil menyalip menyolot-nyolot seperti habis dizholimi apaa gitu. Bingung apa yang terjadi suami menepikan mobil disambut si pemotor yang ikutan ngerem siap menumpahkan amarahnya.

Suami keluar, dengan tenang bertanya ada apa y. Seketika dia nyerocos dengan nada tinggi, mengeluarkan kata-kata kasar yang capek didengar telinga. Berteriak tentang kami yang tidak tau sopan santun berkendara dengan nada bicara yang jauh dari santun. Berlagak paling bener berkendara padahal pakai helm saja tidak. Ditanya kesalahan kami apa malah ditantang adu mobil dan lapor polisi, “getokan” tadi adalah peringatan katanya. Menyebut-nyebut spion tapi ketika saya jelaskan bahwa di jalan memang diutamakan kendaraan yang di jalur lurus malah dia jawab dia yang lurus. Menunjuk-nunjuk dengan dada membusung, diikuti mata dan mulut yang tidak kalah busung. Dia emosi karena “jalan”nya diambil oleh kami, tapi bahkan kami yang sedari tadi berjalan lambat ini tidak tau kapan dimana pengendara jagoan itu muncul. Dengan sabar kami meminta maaf dan berterima kasih masih saja dimaki-maki sok suci di balik kerudung yang saya kenakan. Ah.

Payahnya, kejadian ini masih menguras pikiran saya sampai sekarang, bahkan sampai saya tuliskan di blog! Betapa saya menyadari bahwa mental saya begitu lemah. Menghadapi orang yang tidak bisa diajak bicara saja masih terpancing-pancing emosinya.

Kejadian tadi membawa saya pada kejadian tadi siang. Di tengah siang yang terik, setelah bersabar lama menunggu jalan agak lengang agar bisa menyebrang jalan besar sambil mendorong stroller nidal, datang juga kesempatan. Di sedikit kekosongan tadi saya bersiap melangkah, namun seketika urung karena motor yang berada paling depan tetiba menancap gas jauh meninggalkan mobil di belakangnya. Dan saya. Tidak habis pikir apa yang ada di otaknya.

Kejadian yang hampir sama juga pernah saya alami ketika dibonceng motor suami. Atau yang paling sering, diklaksoni ketika sedang berjalan di pinggir sambil mendorong sepeda roda tiga nidal. Super bingung harus menepi kemana lagi. Ke selokan?

Sebegitu mahalnya kah urusan “memberi jalan” ini?

Sesuatu yang muraaaahh sekali didapat ketika tinggal di Nantes. Ya, mau kemana lagi menbandingkannya, pengalaman hidup saya baru sesempit itu. Di jalanan berzebra cross tanpa rambu, pejalan kaki adalah raja, dan saling memberi jalan bagi para pengendara adalah budaya. Menyebrang jalan tidak perlu sampai menunggu lama apalagi angkat tangan. Kendaraan akan berhenti dengan sendirinya begitu melihat orang akan menyebrang. Yang paling membuat saya takjub, sebuah bis umum besar berhenti dari lajunya yang tidak pelan ketika saya seorang diri sedang menunggu menyebrang di tepian, padahal saya sama sekali tidak menunjukan gelagat minta diberi jalan. Waktu itu saya sedang hamil besar.

Berbeda sekali dengan … Mungkin ketika melihat jalanan agak kosong, bagi para pengendara bermotor tadi, itu adalah kesempatan emas untuk melaju sekencang-kencangnya. Salip sana sini, menyerobot jalur orang lain mungkin menimbulkan kepuasan dan prestasi tersendiri. Menuntut orang lain mengalah, merasa diri paling benar, budaya amuk yang kata pengamat sosiolog marak di Indonesia. Sama halnya seperti tertib antri yang jadi pemandangan langka disini. Begitu rusaknya kah.. Kemudian harus mulai darimana? Ah. Kusut.

analogi

Segenggam tanah dan hamparan ladang
Setetes embun dan guyuran hujan
Sehembus nafas dan angin laut
Sepercik api dan matahari

Lalu.

Apa yang sedang kamu lakukan? Membaca buku cara praktis meningkatkan kecerdasan kognitif? Percuma. Kamu tidak akan mengerti. Nikmati saja awan mendung dari balik jendela.

Di luar sana hujan belum juga berhenti. Dan kamu masih berkata “tidak mengerti”.

resign.

20131218-002857.jpg

Akhirnya saya membulatkan pikiran, bahwa setelah menikah, hidup berumah tangga itu bernafsi-nafsi. Sebenarnya saya benci kesimpulan ini, tapi sepanjang berusaha peduli pada pilihan rumah tangga orang lain (yang tampaknya pada masa sekarang ini semakin rumit), saya ikut-ikutan memilih tidak peduli saja.

Ini tentang pilihan resign setelah melahirkan. Awalnya saya begitu peduli, lama lama saya jengah sendiri. Terlebih ketika belum lama ini apa yang saya lakukan dianggap sebagai judgement yang menyedihkan, yang mencerminkan iri irian ala perempuan. Ya sebut saja saya begitu.

Sewaktu belum bekerja dulu, jauh sebelum menikah, saya berencana mengambil cuti di luar tanggungan selama satu tahun (ditambah cuti melahirkan jadi satu tahun tiga bulan) jika punya anak nanti, kalau tidak bisa ya resign saja, nanti cari cari kerja lagi. Waktu itu saya masih polos memang, atau lebih tepat disebut bodoh, sekarang pun masih sepertinya. Bahwa kenyataannya dunia tidak semudah rencana bodoh itu. Dan adalah bodoh berusaha menularkan pikiran bodoh itu pada orang lain. Karena dunia sekarang penuh kalkulasi. Lihat saja sekitar. Sulit sekali percaya jaminan rizki dari Tuhan. Saya sendiri pun takut dilanda krisis finansial. Jika bukan karena ketakutan yang lebih besar akan pertanggungjawaban saya sebagai ibu kelak, tentu saya akan ikut ikutan berkalkulasi.

Sampai saat ini saya pegal berkomentar tentang resign pasca melahirkan. Untuk sebuah pekerjaan yang mirip mirip pekerjaan saya dulu, yang berangkat gelap pulang gelap, belum lagi lembur bersama, DL, dan konsinyering. Untuk rizki dari pintu suami yang tercukupi. Untuk mereka yang tidak perlu terpaksa bekerja untuk menopang atau membantu hidup keluarga. Saya bisa membayangkan, maka saya gatal berkomentar. Tapi lama lama saya pegal.

Awalnya saya ingin peduli pada perkembangan anak, ingin peduli pada kemandirian, pada ibu atau mertua yang seperti kata Elly Risman tidak didisain untuk mengasuh cucu – mereka sudah mulai renta dan anak adalah tanggung jawab orangtuanya. Tapi lama lama peduli apa.

Toh seorang teman yang curhatan tentang kembali bekerjanya sama sekali tidak saya tanggapi dengan gerah malah ujug ujug mengabarkan resign dengan penuh keikhlasan dan rasa syukur. Yang saya terkejut dan angkat topi dibuatnya. Toh tetangga saya yang tidak pernah menyentuh bangku perguruan tinggi dan belum lama mengenal islam memutuskan resign ketika akan melahirkan anak keduanya karena tidak tega anaknya diasuh orang lain. Jadi biarlah saya menyimpulkan bahwa pilihan semacam ini tidak ada hubungannya dengan tingkat pendidikan dan keshalihan, apalagi komentar panjang lebar dari seorang saya yang bukan siapa siapa, bukan apa apa. Apa yang menjadi pilihan masing-masing adalah sebuah pengaruh lingkungan sosial yang panjaaannngg.. Mungkin sepanjang ketika mereka diasuh ibunya di masa bayi dulu.

Beruntungnya, hari ini saya cukup lega membaca tulisan M Fauzil Adhim,

Berbincang tentang ibu, apakah yang mengantarkan orang-orang besar itu meraih kemuliaan dan kehebatannya? Apakah karena cerdasnya seorang ibu dalam mengasuh ataukah tulusnya cinta mereka sehingga bersedia berpayah-payah dan berletih-letih mendampingi buah hatinya mempelajari kehidupan? Apakah yang dapat kita petik dari orang-orang yang namanya telah ditulis indah dalam sejarah? Karena ibu-ibu yang jeniuskah? Ataukah karena ibu yang mengikhlaskan rasa sakitnya untuk mendidik dan mengasuh anaknya?”

Maka kekhawatiran tentang semakin sedikitnya ibu berpendidikan tinggi yang seakan lepas dalam mengasuh anaknya bisa ditepis.

Maka selama ini saya memang hanya menghabiskan energi. Mungkin benar yang teman saya bilang bahwa saya terlalu sibuk menilai orang lain sehingga lupa menilai diri sendiri, yang padahal masih banyaaakkk sekali kekurangannya. Dan saya pun berusaha meyakini bahwa nasehat menasehati dalam pilihan semacam ini tidak ada gunanya terjadi. Jadi sebelum kembali termakan omongan sendiri, saya memilih untuk “resign” saja.

*gambar dari temen

spidol.

Seringkali aku mendapati diriku, duduk melipat kaki di sebuah ruangan sempit. Mencoret-coret tembok putih dengan mata dan pikiran yang kosong. Sendirian.

Ketika itu aku sedang berputus asa menenangkan seorang bayi rewel yang tangisannya memekakkan telinga. Yang sering sekali seperti itu. Dengan perut terisi seadanya. Di sebuah kamar tidur. Larut malam. Sendirian.

Seringkali aku mendapati diriku, duduk melipat kaki di sebuah ruangan sempit. Mencoret-coret tembok putih dengan tangan yang tak begitu bertenaga. Sendirian.

Ketika itu sedari berjam-jam aku sedang berputus ass menidurkan seorang batita yang tangisannya hampir memecahkan telinga. Dari waktu tidur hingga lewat tengah malam. Dengan perut besar berisikan janin yang menendang-nendang. Di sebuah kamar tidur. Sendirian.

Seringkali aku mendapati diriku, duduk melipat kaki di sebuah ruangan sempit. Mencoret-coret tembok putih dengan jiwa yang sakit. Sendirian.

Ketika itu aku ingin sekali berharap. Pulang.

tiga malam.

20130919-103403.jpg

Baru semingguan ini kami menempati kontrakan baru kami. Seperti biasa, kerjaan saya di awal-awal tinggal adalah berkeliling mengenal lingkungan dan menyambangi tetangga terdekat. Tetangga yang dalam konteks Denpasar sudah dapat tertebak di awal tatapan, mana yang kemudian akan berasa saudara mana yang kelihatannya akan sulit sekali.

Sebelum genap seminggu, ketika rumah belum sempurna nyaman ditempati, suami sudah ditugaskan ke luar kota. Empat hari tiga malam, Balikpapan. Kegiatan pelepas bosan mulai terancang di kepala. Perbanyak main di luar pada terang hari dan main di ruangan di sisa malamnya sukses membuat Nidal tidak rewel bosan. Tapi satu yang paling terasa. Betapa saya membutuhkan TV sebagai hiburan yang paling berharga untuk mengusir sepi. Mengusir suara gonggongan anjing yang ramai di malam hari. Horor.

Sayangnya, tepat di malam pertama, di tengah tidur malamnya yang lelap, Nidal terserang demam. Sampai pukul 3 pagi dia sulit terpejam lagi karena panas tinggi. Tidurnya sebentar sebentar sekali.

Dari malam pertama hingga malam selanjutnya demamnya tak putus. Dalam 24 jam pertama itu drama gendong nenen tidur nangis terus berlangsung. Bingung antara memberi makan diri sendiri dengan berjuang menawari Nidal berbagai makanan. Antara selalu memberi kenyamanan si pasien kecil dengan mengutamakan kesejahteraan janin.

Di malam panjang kedua, tidurnya makin tak tenang. Obat penurun panas yang diminum setiap 6jam hanya membantu di 2 jam pertama. Tengah malam Nidal terbangun panas tinggi lagi. Satu yang bisa membuat dia merasa lebih baik. Disusui sambil dipeluk pangku. Skin to skin. Seketika badan saya ikut merasa panas sekali. Untuk Nidal yang mudah protes, metode ini jauh lebih efektif daripada kompres. Konsekuensinya, saya harus tetap duduk terjaga. Sekali kali bisa menyandar sambil memejamkan mata, sampai Nidal terbangun resah karena panasnya naik lagi. Sampai sisa 4jam penantian waktu minum obat tiba. Sejam setelah minum obat panasnya berangsur turun dan Nidal bisa ditidurkan di kasur lagi. Dan saya bisa ikut tidur di sisa malam terakhir.

Malam panjang ketiga, bagai mengulang episode malam sebelumnya. Doa agar tidak ada gejala yang menunjukan kedaruratan lebih khusyuk dipanjatkan.

Dari tiga hari tiga malam yang saya lalui seorang diri itu, ada insight yang ingin saya bagi:

Pertama, stock makanan setengah jadi di kulkas. Jika suami akan bertugas keluar kota lagi, penting untuk menghadirkan bahan makanan setengah jadi di freezer. Ayam ungkep, ikan yang sudah dibumbui, bumbu masak yang sudah dihaluskan, bahkan sekedar potongan sayuran beku. Dan penting juga untuk menyediakan stock makanan kesukaan Nidal.

Kedua, stock paracetamol. Ini sudah wajib di kalangan ibu-ibu pastinya. Alhamdulillah Sanmol di laci tidak saya buang waktu beberes pindahan rumah. Untuk termometer, Nidal mengamuk hebat jika dipasang termometer di ketiak. Jadi kalau ada rejeki lebih, belilah termometer tembak. Walaupun katanya tidak seakurat yang konvensional tapi setidaknya kita tau kisaran suhunya. Dibanding tidak tau sama sekali karena tidak pernah berhasil dipasangi termometer.

Ketiga, sebelum malam panjang dimulai, bawa serta seluruh perlengkapan yang kira-kira dibutuhkan ke dalam kamar. Baju ganti, popok, cardigan dan jilbab (untuk saya), perlengkapan shalat, cemilan, air minum yang banyak, gendongan, buku cerita, charger, dan sebagainya. Letakkan di tempat yang mudah terjangkau. Karena tidak ada orang lain yang bisa kita mintai tolong ambilkan sesuatu ketika anak rewel.

Keempat, nomor emergency. Bahkan saya tidak menyimpan nomor taxi, nomor ambulan, dan tidak tau rumah sakit dengan ugd 24 jam mana yang harus saya tuju jika terjadi apa apa. Yang saya punya hanya nomor hp tetangga yang baik hatinya, dan klinik prakter dokter (yang jam prakteknya hanya pagi dan malam) yang bisa ditempuh dengan jalan kaki. Di saat saat “wait and see” selama 72 jam ini, bisa saja timbul gejala darurat yang mengharuskan si bayi segera dibawa ke UGD.

Kelima, selain bantal menyusui untuk menyangga si bayi, sepertinya bantal leher berguna juga agar kita bisa tidur duduk di malam hari. Jadi kepikiran buat beli.

Hari ini Nidal masih demam, hari ini insya Allah Ayah pulang. Ah, Nak. Semoga tidak ada yang serius dengan penyakit mu.

my last two pils

20130918-224720.jpg

Satu pekan yang lalu adalah hari terakhir saya mengkonsumsi obat yang selama 6 bulan belakangan menemani. Enam bulan. Waktu yang panjang buat saya yang sulit rajin minum obat, bahkan untuk sekelas antibiotik. Bukan sepenuhnya salah pribadi juga sih (pembelaan), dari kecil saya sering dihadapkan pada dokter yang gemar memberi obat. Sebutlah seperti kata salah seorang teman saya yang sekarang sudah jadi dokter, punya anak juga, dan tinggal di kampung halaman tempat kami besar bersama dulu.

“Ga sama dokter xx aja dokter anaknya?”
“Ngga ah, dokter itu mah suka berlebihan kalo kasih obat”
“Ha. Pantesan gigi susu gw pada abis ya waktu kecil dulu”

Yang kalimat terakhir gatau deh ada hubungannya apa ngga.

Kembali ke 6 bulan tadi, dua bulan pertama minum 5 pil sehari dan 2 pil sehari di 4 bulan berikutnya adalah sesuatu. Big thanks buat suami tercinta yang terhitung lebih dari 30 x 6 kali banyaknya bertanya ‘udah minum obat, bun?’ bahkan di waktu kami berlainan negara atau kota. Dia selalu ingat jam minum obat saya.

Minum obat (yang adalah antibiotik) selama 6 bulan bisa ketebaklah apa penyakit saya. Yak. TB.

Bukannya waktu itu lo lagi tinggal di Pancis na?

Yak. Saya tertular TB di Prancis. Agak geli kedengerannya memang. Bertahun-tahun tinggal di Indo yang kasus TB nya peringkat 3 dunia tidak pernah sekalipun kenalan dengan penyakit tersebut, waktu tinggal di Prancis malah tertular. How come? Tidak tau pasti. Tapi yang jelas saya ketahui waktu itu, daya tahan tubuh saya menurun drastis pasca lahiran dan menyandang status busui (tanpa assisten dan menghadapi hidup yang serba tidak mudah *tsaahh @.@). Satu lagi, salah seorang teman dari India yang lumayan dekat dengan suami menderita batuk yang panjaaaannggg dan terdengar mencurigakan. Ya, mau ga mau harus nyari tersangka kan.

Terpaksa minum obat di atas sebenarnya belum ada apa apanya. Ada hal lain yang jauh lebih membuat dua pil TB terakhir saya begitu mengharukan. Yaitu diagnosa penyakit saya yang panjang, penuh perjuangan, dan air mata. Hiks.

Saya masih ingat. Ketika Nidal berumur 3 bulan, saya mulai langganan sakit-sakitan. Demam tinggi. Yang walaupun menyerang tidak membuat saya bebas berbaring di kasur. Ada Nidal yang harus saya gendong, harus saya ganti popoknya, harus saya ajak main agar tidak rewel. Kalau dipikir-pikir, di balik sakit-sakitannya saya di ketika Nidal berumur 3 bulan ini ada hal yang disyukuri juga. Apa yang terjadi kalau saya sering sakit-sakitannya ketika Nidal masih di bawah 3 bulan. Yang jam malamnya masih super begadang. Yang saya selalu wondering saya tidak sekalipun jatuh pingsan di tiap hari yang antara istirahat atau tidak. Subhanallah. Maha baik Allah.

Sakit-sakitannya waktu itu belum TB. Hanya demam tinggi karena flu. Paling lama 3 hari. Sampai di bulan September, saya menderita batuk, tanpa demam, tanpa dahak. Batuk kering yang lama kelamaan makin sering. Yang setelah lebih dari tiga minggu terdengar makin mengerikan. Yang ketika saya mulai merasa harus ke dokter, malamnya saya batuk hebat sampai mengeluarkan darah setelapak tangan disertai ‘apalah itu’ sesuatu yang kecil dan solid.

Daya tahan tubuh yang buruk, musim dingin, dan bakteri TB adalah sebuah perpaduan yang menyedihkan. Dari dokter saya diminta rontgen. Hasilnya ada infeksi di pari-paru kanan bawah saya. Saya minum antibiotik 10 hari. Saya juga test mantoux (tes TB lewat suntikan di bawah kulit) yang hasilnya ternyata negatif. Antibiotik selesai saya kembali batuk hebat seperti sebelumnya. Hasil rontgen saya tidak menunjukkan perubahan. Hasil tes darah saya mengindikasikan ada infeksi. Dokter merujuk saya ke spesialis paru.

Berobat ke dokter spesialis di Nantes bukanlah perkara mudah. Di klinik terdekat dari rumah, RDV ke dokter spesialis paru sudah penuh sampai bulan depan. Waw. Akhirnya kami ke dokter paru di klinik yang cukup jauh. Sejauh perjalanan naik bis, tram, kemudian bis lagi dengan jalur yang panjang. Disana RDV saya sepekan lagi. Bukan sebulan. Alhamdulillah.

Sepekan yang terasa panjaaanng sekali dengan batuk yang terus menjadi. Terutama di tengah malam yang seringkali membangunkan Nidal. Membuat aktivitas menyusui dan menidurkan ikut terasa panjang. Dengan kata lain, waktu istirahat semakin pendek. Batuk berkepanjangan ini juga mulai membuat dada kanan bawah saya sakit. Saya tidak bisa lagi menarik nagas panjang. Setiap kali batuk, bagian tersebut serasa robek dan tertusuk-tusuk. Untuk mengurangi deritanya saya harus meremasnya sambil membungkuk setiap kali batuk. Menurut teman yang dokter dan sedang mengambil study di Prancis, kemungkinan pleuritis. Kondisi itu membuat saya merasa seperti pesakitan jika sedang di tempat umum, terutama di perjalanan menuju RS di tiap jadwal RDV. Membawa bawa amplop rontgen dan terbatuk-batuk sambil membungkuk meremas dada. Hati siapa tidak curiga dan ingin menjauh.

Di hari yang dinanti-nanti, di waktu RDV dengan dokter sp paru. Saya berangkat dengan hati yang mau meledak karena penuh dengan harap. Akan ada sesuatu (sebut saja obat) yang akan diberikan dokter untuk membuat saya merasa lebih baik. Tapi yang terjadi, setelah cerita perjalanan penyakit panjang lebar dan tes pernafasan, dokter hanya menuliskan rujukan untuk CT Scan, tes darah, dan Fibroskopi bronchique. Ketika ditanya kenapa tidak diberi apa-apa padahal batuk saya sudah sangat menganggu, beliau menjelaskan karena ingin mengetahui gejala penyakit dengan jelas tanpa terganggu obat. Kali itu hati saya rasanya benar-benar akan meledak, karena kecewa. Baru kali itu saya begitu mengharapkan obat. Jika bukan karena batuk yang begitu menyiksa. Tapi bayang bayang penderitaan itu tidak lama menghantui, selesai dari ruang dokter, ketika sedang mengurus administrasi di ruang sekretaris, sang dokter keluar lagi menghampiri, menanyakan ini itu dan akhirnya meresepkan saya antibiotik untuk 15 hari. Alhamdulillah.

Antibiotik membuat saya sedikit lebih baik. CT Scan hanyak menunjukkan infeksi, yang dicurigai peneumoni, yang dicurigai saya alergi. Hasil tes darah lama sekali keluarnya karena sampelnya harus dikirim ke paris. Fibroskopi?

RDVnya pagi-pagi. Nidal masih terlelap sudah terpaksa dibungkus dan dinaikkan ke stroller. Saya belum sempat sarapan. Di bis saya minum sekotak susu dan sesampainya di ruang tunggu RS saya menikmati sepotong roti sementara suami mengurus pendaftaran. Di tengah mengetik, madame petugas melirik ke arah saya sambil heran kemudian bertanya, ‘kamu makan?’ saya mengangguk lambat. Kemudian dia menelepon bagian medis sambil menjelaskan dengan nada kesal kalau saya seharusnya berpuasa dari pagi. Dan suami saya pun teringat satu kata yang tidak dia menegerti dan lupa dia cari artinya di kertas RDV. Puasa.

Suster senior keluar, kami menjelaskan dengan menyesal, dan ia pun menyesali tindakan sekretaris dokter yang tidak menjelaskan detail kepada kami tentang prosedur fobroskopi yang ternyata termasuk tindakan lumayan serius, one day surgery. Akhirnya kami membuat RDV baru untuk pekan depan. Jadwal tiket pulang ke indo kami mundurkan sebulan.

Pekan depan, bagaikan mengulang pagi yang sama, bedanya saya tidak makan minum. Masuk ruang rawat bersama, satu kamar berisi sekitar 8 bed semi kursi. Di dalam saya bertemu beberapa orangtua yang sepertinya baru operasi katarak. Saya diberi kostum operasi lengkap dan tidak lama kemudian dibawa ke ruang operasi dengan kursi roda. Beruntungnya, dokter anastesi yang menangani saya bisa berbahasa inggris. Sambil menyemprotkan cairan anastesi ke dalam kedua rongga hidung yang harus saya telan, yang rasanya tidak enak sekali, yang seketika membuat mati rasa, beliau menjelaskan prosedur fibroskopi bronchique. Yang saya ingat jelas beliau bilang tidak sakit, beliau bilang hanya akan terasa tidak enak, tapi begitu tindakan dilakukan, begitu selang yang akan menuju paru-paru itu dimasukkan, rasanya sakit sekali di tenggorokan. Cairan mulai dialirkan ke dalam paru-paru, saya yang masih kaget karena sakit jadi terbatuk batuk hebat, memuntahkan cairan hingga membasahi dada. Suster menaruh banyak tisu di leher saya, menggenggam erat tangan saya, membimbing saya bernafas lewat mulut, mengingatkan saya agar tidak batuk, matanya memancarkan kekhawatiran. Lambat laun saya bisa tenang, dengan cairan yang terus mengalir ke paru-paru dan kawat (yang sepertinya untuk biopsi) yang keluar masuk berkali-kali lewat selang, saya memandang pasrah langit-langit sambil mengucurkan air mata, sambil berusaha tetap bernafas. Beberapa menit kemudian prosedur selesai. Saya masih batuk batuk disertai lendir dan darah. Dokter meminta maaf. Suster tersenyum lega. Saya dibawa keluar dengan masih dibayang-bayangi kejadian yang begitu membuat saya merasa dekat dengan kematian. Kedua setelah pengalaman melahirkan.

Satu pekan kemudian, kami bertemu dokter kembali. Selama satu pekan itu, setelah menjalani fibroskopi, saya terkena demam. Batuk, nyeri dada, demam, dan Nidal. Seakan lengkap sekali. Paracetamol menjadi penolong setia selama satu pekan tersebut. Hasil fibroskopi menunjukkan saya positif TB dan menjelaskan demam yang saya derita pasca fibroskopi karena bakteri TB nya terangsang oleh tindakan fobroskopi, akhirnya demam saya baru keluar. Dokter meresepkan obat untuk 6 bulan, walaupun beliau tau saya akan pulang ke Indo selamanya, beliau ingin pengobatan saya tuntas. TB saya tidak menular, karena batuk saya memang kering, dan di dahak yang sedikit sesekali itu tidak ditemukan bakteri. Dokter menjanjikan, 2 hari setelah minum obat demam saya akan hilang.

TB saya aman untuk suami saya. TB saya aman untuk bayi saya. Bagaimana dengan obatnya? Saya masih menyusui. Dokter menanyakan bagian farmasi, beliau bilang tidak bisa. Rasanya dada ini sesak sekali. Di depan pintu lift saya menangis. Sesampainya di farmasi, ketika menebus obat, kami bertanya hal yang sama ke apoteker, beliau bilang juga tidak bisa, sambil menunjukkan referensi di komputernya, membacakan efek yang dikhawatirkan. Akhirnya saya minta beberapa kotak paracetamol. Saya berpikir akan minum paracetamol terus saja sampai pulang ke Indo, agar Nidal bisa saya susui di pesawat, agar proses penyapihan ini tidak terlalu mengagetkan buat dia.

Di halte bis, saya menangis lagi. Suami memberi saya nasehat yang membuat saya semakin menangis. Dalam perjalanan pulang di bis, saya berinisiatif membuka AIMI dan menemukan artikel yang membuat saya begitu bahagia. Obat TB aman untuk ibu menyusui. Dilengkapi artikel WHO. Diperkuat jurnal yang sengaja suami saya cari dan baca. Diyakinkan dengan pernyataan seorang teman yang dokter. Alhamdulillaaahh.

Hari itu bulan Februari. Perjalanan diagnosa penyakit yang panjaaanngg sekali. Dokter di Prancis sangat evidence based. Itulah mengapa dua pil terakhir tadi menjadi begitu mengharukan. Lewat tulisan ini saya ingin berterima kasih kepada suami yang sabar setia mendampingi saya, dan spesial sekali kepada Venty dan Tya yang baaaaiiikkk sekali bersedia menjadi tempat konsultasi saya di tengah kesibukan studynya di Poitiers. Semoga Allah memberi balasan kebaikan yang berlipat kepada kalian semua. Aamiin yaa Rabb..

silaturahmi.

20130703-144022.jpg

Di umur-umur segini, selepas kampus, selepas ga di kisaran depok jakarta lagi, selepas cilegon ga seterjangkau naik bis sekian jam, selepas bertahun nun jauh di seberang, silaturahmi dengan teman adalah sesuatu yang ‘mahal’ dan harus diusahakan di sesempit-sempitnya kesempatan. Sekalian mampir mumpung lagi ke suatu kota, atau beruntungnya, tinggal di denpasar banyak kedatangan teman yang sedang liburan, hanimun, atau dinas luar.

Hampir semua adalah pertemuan singkat yang masih menyisakan rindu. Terlebih sekarang sudah ada buntut yang masih kecil, ngobrol tentu saja jadi ga sesantai berdua lagi. Buntut ketemu buntut, ada ada masing-masing sibuk dengan buntutnya. Karena masih di usia yang belum bisa dilepas main sendiri. Tetap seru. Kecuali sedikit kejadian dari sekian yang membuat momen silaturahmi singkat yang diupayasengajakan itu terasa hambar. Karena apa?

Adalah fitrah setiap orang tua sayang dan bangga dengan anaknya. Perkembangan yang pesat, kemampuan yang melebihi anak seusianya, adalah godaan para orangtua untuk ‘pamer anak’. Suatu hari di facebook, teman suami mengupdate perkembangan anaknya yang sudah pintar ini itu. Saya, yang punya anak hampir seumuran sontak takjub dan..berkecil hati.

“Hebat banget y A, setaun udah pinter makan sendiri masa..”

Tapi suami merasionalisasi ke-iri-an saya dengan berkata.

Dia mah kayaknya tipe orangtua yang suka mamerin anaknya deh, Bun. Palingan makan pake tangan biasa kayak Nidal.”

Tipe orang tua yang senang pamer anak. Saya kemudian menyaksikannya langsung di beberapa agenda silaturahmi. Agenda silaturahmi yang.. Sepanjang singkatnya pertemuan kami si ibu malah sibuk pamer kemampuan anaknya. Melihat kelucu-pintaran anak teman itu seru, tapi kalau sepanjang silaturahmi kami menonton anaknya terus ya..gimana ya. Haha. Yaa.. Sebut saja saya iri. Rekam jejak Nidal sepanjang silaturahmi memang kurang bagus. Diantaranya menumpahkan minuman teman yang baruuuu saja disajikan di rumah makan, mempreteli taplak manik-manik di rumah ortunya teman, ngacak-ngacak kamar hotel teman, bikin putus 2 pulpen tempel di meja kantor teman, atau cuma ngumpet di ketiak saya karena takut dengan lingkungan n orang-orang baru.

Tapi terlepas dari itu semua, tetap saja, lama lama hilang keseruan, sama sekali tidak menyisakan rindu. Sesi sharing yang diharap-harap malah jadi sesi nonton setia.

Akhirnya, tulisan ini harus menjadi pengingat diri yang masih sering khilaf sih. Dan saya jadi teringat sebuah tulisan penutup di Parenting magz edisi lalu lalu:

“Sure, my parenting skills aren’t perfect, but I’ve realized I don’t have to prove myself to anyone. I know I’m a great mom, flaws and all.” (Janene Mascabella)

  • @hananikaru

    Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 26 other followers

  • Blogs I Follow

Sandi Bayu Perwira

"Selama masih bisa berdiri, aku kan mencoba untuk terus berlari"

fsembapr

Just another WordPress.com site

leoni rahmawati

Live, Learn, Grow

Peace of Mind

lessons I learn in life, through life.

Halaman Bastenggo

Jadilah Inspirasi!

Simply POSITIVE

I write when I sad, happy and feel anything

singkongkejuyummy

Sometimes, people write the things that they can't say

the doodle house

A gleeful account of the escapades of two 20-somethings, our dogs and a little house in Austin.

The Rok Traveler

Tetap Nyaman Traveling Dengan Rok Panjang Syalala

adhyasari

Life is full of beauty. Notice it.

Inasa Kamila's Blog

"Plain and sensible is best.” – Marilla Cuthbert (Anne of Green Gables)

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

sepedakwitang.wp

catatan kecil Bunda Amaya & Arsa

enjeklopedia

lalala nulis saja...

DR. SAIFUL BAHRI, M.A.

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat buat sesama"

Scientia Afifah

bacalah, dan bertumbuhlah!

Ransel Butut

its about backpacker traveler .. enjoy my journey :)

PKJ 4.0

Tilawah, Tazkiyah, Ta'lim

Catatan Harian Calon Ibu

Karena Kesabaran Selalu Berbuah Manis

you and mie

let's make things

Craft Schmaft

Making Happy

Sugar & Cloth

DIY Inspired Living

Story of Kayla

Just another baby-story site

iing's files

notes and files by Fitri Iing

C'est ma vie

it's my life, my chance, my destiny

JamilAzzaini.com

untuk rehat. sejenak.

Interpreting Life

~人生の意味を調べてる私~

untold thought and feeling

karena menulis itu belajar asertif dan berkarya.

PradanaNusantara

writing is an art of giving

Tatty Elmir

Happy Lucky Traveler

pelangi.kata

saat goresan kata menciptakan warna ide yang nyata..

Catatan Big Zaman

Note to My Self

L'Arc En Ciel

full of colors as rainbow...

Dream Diary

Keg of Arie's Thoughts

ARIP MUTTAQIEN

untuk rehat. sejenak.

Mind Trick

Forgive what I have been. Sanctify what I am. Order what I shall be.

~ Ma Petite Arie

... Goûtez La Vie...

Chez Putranto

"A cup of coffee is enough to start the day"

giant spotlight and battle in the brain

keep learning keep inspiring

Talk To My Belly

The nice and not so nice conversations prompted by my round pregnant belly

Bengkel Budaya

Menyemai Insan Cendekia

The R's

The Neverending Learning Journal

UMI~GA~KIKOERU

"I Can Hear The Sea"

Selintas Tulis

Tulisan Sekali Duduk..

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers